Nilai Ujian Praktikum 2 Iktiologi, 5 Januari 2013

NRP

Ujian Tulis

Identifikasi

NA

C34100019

85.5

100

89.85

C34100032

92

100

94.4

C34100037

93

50

80.1

C34100039

87.5

100

91.25

C34100050

92

100

94.4

C34100053

87

95

89.4

C34100054

87.5

100

91.25

C34100063

96

100

97.2

C34100081

87.5

100

91.25

C34100082

97

100

97.9

C44090050

88

99

91.3

C44100007

87

100

90.9

C44100055

79

100

85.3

C44100063

77

98

83.3

C54080016

86.5

100

90.55

C54080023

92

100

94.4

C54090070

88

70

82.6

C54100004

71.5

100

80.05

C54100008

87.5

100

91.25

C54100010

94

95

94.3

C54100011

91

100

93.7

C54100016

95.5

95

95.35

C54100017

82

50

72.4

C54100019

89

95

90.8

C54100024

89.5

100

92.65

C54100029

92

70

85.4

C54100030

92

95

92.9

C54100037

95

80

90.5

C54100039

90

100

93

C54100041

83.5

100

88.45

C54100044

92.5

100

94.75

C54100046

89

60

80.3

C54100047

78.5

50

69.95

C54100050

92

100

94.4

C54100052

88.5

100

91.95

C54100054

92.5

99

94.45

C54100055

89

100

92.3

C54100056

85

60

77.5

C54100057

80

50

71

C54100058

93

100

95.1

C54100062

95.5

100

96.85

C54100071

82

70

78.4

C54100074

76.5

99

83.25

C54100075

76

50

68.2

C54100077

85

100

89.5

C54100081

74

100

81.8

C54100083

86.5

70

81.55

C54100086

85

50

74.5

C54100093

93

100

95.1

C54100097

89

60

80.3

C54100098

84.5

100

89.15

Kamp-Luna merupakan kegiatan tahunaan yang diselenggarakan oleh Forum Keluarga Muslim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institur Pertanian Bogor. Adapun tema dari kegiatan Kamp-Luna 2012 ini adalah “LA_MOON FIV (Love Marine Conservation From Islamic View)”. Kegiatan ini bersifat umum, jadi peserta dapat berasal dari fakultas lain, Universitas lain, alumni dan masyarakat umum. Acara  ini terdiri dari dua kegiatan yaitu Seminar dan Jelajah kampung nelayan. Seminar berupa Kajian Aktual Masyarakat Pesisir yang akan dilaksanakan pada hari Kamis, 1 November 2012 pukul 15.30 di Auditorium Sumardi Sastrakusumah yang dikenal dengan Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Dalam seminar tersebut akan menghadirkan dua pembicara yaitu Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc yang akan menyampaikan materi tentang Konservasi dalam Pandangan Islam dan Dodi Hardiana (Asisten kepala kurator Sea Word) yang akan menyampaikan materi tentang Konservasi secara umum. Selain itu, akan disampaikan pula informasi-informasi kepada peserta untuk kegiatan di kampung nelayan. Oleh karena itu, para peserta diharapkan untuk dapat hadir pada acara Kamp.

Jelajah kampung nelayan ini dilakukan di Pangandaran pada tanggal 2-4 November 2012. Pemberangkatan peserta dilakukan pada tanggal 2 November 2012, pukul 21.00 WIB jadi diharapkan peserta dapat hadir 30 menit sebelum pemberangkatan untuk pengecekan keperluan yang akan dibutuhkan saat Luna. Keesokan paginya insyaAllah sudah tiba di Pangandaran. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan disana diantaranya adalah kunjungan ke Balai Pengembangan Bibit Ikan Air Payau dan Laut (BPBAPL), kunjungan ke Kampung Nelayan, GOES TO GREEN CANYON, kunjungan ke penangkaran penyu dan terakhir melepas lelah di Pantai Batu Hiu. Kemudian setelah semua kegiatan selesai maka akan kembali ke Bogor dan insyaAllah hari Minggu, tanggal 4 November pagi sudah tiba di Bogor. Diharapkan kepada seluruh peserta untuk mempersiapkan diri dengan baik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian sekelumit informasi mengenai Kamp-Luna, semoga bermanfaat.

Salam super dari Panitia Kamp-Luna 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan IPB Goes to Field (IGTF) merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun oleh IPB. Kegiatan IGTF tahun 2012 ini dilaksanakan di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Kegiatan di bidang perikanan salah satunya di laksanakan di Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Kegiatan ini dilaksanakan di UPR Budidaya Air Tawar Jabal Mina milik bapak Sumitro. Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya yaitu pembenihan ikan lele secara semi-intensif, kultur pakan alami (artemia), kultur probiotik, dan diklat P2MKP dibawah binaan BPPP Tegal.

Pembenihan ikan lele semi-intensif merupakan pembenihan ikan lele dengan sistem kawin suntik dan pemijahan terjadi secara alami. Persiapan yang dilakukan untuk melakukan kegiatan tersebut adalah pertama menyiapkan bak pemijahan. Bak pemijahan berupa bak semen dengan ukuran 1×3 meter terlebih dahulu dibersihkan dengan cara disikat dan dicuci hingga bersih kemudian dikeringkan dan diisi air sampai kedalaman sekitar 15-30 cm. Setelah itu menyiapkan kakaban sebagai substrat tempat menempelnya telur hasil pemijahan. Kakaban terbuat dari ijuk yang disusun rapih dan diapit dengna menggunakan bambu. Selanjutnya, dilakukan pemilihan induk yang matang gonad dan siap untuk dipijahkan. Induk jantan dan induk betina yang telah diseleksi diletakkan dalam bak yang berbeda. Induk disuntik menggunakan ovaprim dengan dosis 0.3 mL per 1 kilo gram induk dan diencerkan dengan larutan NaCl 0.9% sebanyak 0.6 mL. Induk disuntik di bagian punggung di dekat sirip dorsal (sirip punggung) dengan kemiringan jarum suntikan sekitar 300. Ketika dilakukan penyuntikan sebaiknya induk ditutup bagian kepalanya dengan Setelah itu dilakukan penyuntikan menggunakan kain agar induk tidak stress. Setelah itu, induk dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang telah diberi kakaban, untuk sepasang induk diberi 4-6 kakaban agar telur tidak tercecer ke lantai dasar bak pemijahan. Penyuntikan dilakukan sore hari, sehingga keesokan harinya telah diperoleh telur-telur yang menempel pada kakaban. Setelah terjadi pemijahan, induk jantan dan betina diambil dan dipindahkan ke kolam induk. Telur dibiarkan di dalam bak pemijahan selama 24-36 jam agar menetas. Setelah telur menetas, kakaban diangkat dari bak pemijahan. Larva dibiarkan selama 2-3 hari tanpa diberi makan, setelah 3 hari larva diberi makan pakan alami yaitu artemia selama sekitar 2 hari setelah itu larva diberi pakan cacing sutera sampai usia larva 14 hari. Suhu di desa Adisana cukup dingin sehingga untuk mengatasi hal tersebut maka bak penetasan telur ditutup menggunakan terpal mulai dari sebelum telur menetas sampai larva berumur 5-7 hari.

Kultur pakan alami yang dilakukan dalam kegiatan ini yaitu kultur artemia. Artemia merupakan jenis udang-udangan yang digunakan sebagai pakan alami larva udang dan ikan. Kultur artemia dilakuan dengan persiapan wadah berbentuk silinder dengan terdapat corong dibagian bawahnya. Wadah diisi air dan garam tidak beriodium secukupnya hingga air tersebut terasa asin,kemudian diberi aerasi secukupnya. Telur artemia dimasukkan sesuai kebutuhan dan diberi aerasi. Telur akan menetas setelah 24 jam. Artemia dapat dipanen dengan cara disifon dan disaring menggunakan saringan. Sebelum disifon aerasi dikeluarkan dari wadah dan wadah ditutup menggunakan kain gelap yang tidak tembus cahaya, ditunggu 5-10 menit agar siste (cangkang telur) mengapung sedangkan artemia bergerak ke bagian bawah. Artemia yang telah dipanen diencerkan dengan air tawar dan siap diberikan ke larva ikan.

Probiotik adalah beberapa bakteri yang dikulturkan yang memiliki beberapa fungsi yaitu untuk menjaga kualitas air, menurunkan kadar amoniak dalam air, menekan pertumbuhan bakteri patogen penyebab penyakit, melancarkan pencernaan ikan dan menurunkan FCR. Kultur probiotik dilakukan dengan persiapan wadah, dedak dan molase atau gula dimasukkan ke dalam wadah dengan perbandingan 1:1, diaduk hingga homogen lalu direbus hingga matang. Setelah itu didinginkan dan dimasukkan ke dalam air 50-200 liter, EM4 dimasukkan sebanyak 1 liter dan diaduk hingga homogen. Kemudian, diberi aerasi dan ditutup rapat, dibiarkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung selama 5-7 hari. Setelah itu probiotik dapat digunakan. Penggunaannya dapat disebar di air kolam dan dapat pula dicampurkan pada pakan. Indikator probiotik telah terbentuk yaitu adanya busa dan bau tape.

Kegiatan yang dilakukan selanjutnya selama IGTF adalah diklat P2MKP. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPPP Tegal yang bekerja sama dengan UPR Jabal Mina dan mahasiswa IGTF 2012. Diklat tersebut dilaksanakan pada tanggal 11-14 Juli 2012 yang diikuti oleh 20 orang petani ikan (pembudidaya ikan) dari beberapa desa dan kecamatan di kabupaten Brebes. Kegiatan yang dilakukan pada diklat tersebut diantaranya adalah praktik pengambilan hipofisa, pemijahan ikan lele secara intensif, pembuatan pakan pellet dan pembekalan materi pendukung, yakni kultur probiotik, kultur pakan alami (cacing sutera dan artemia), pengenalan dan pemberantasan hama kolam.

Pengambilan hipofisa dilakukan untuk memanfaatkan hipofisa ikan sebagai pengganti ovaprim. Hipofisa yang dapat digunakan yaitu hipofisa ikan yang masih hidup lalu dimatikan dengan cara dipotong bagian kepalanya. Ikan yang diambil hipofisanya pada kegiatan ini adalah ikan lele. Kepala ikan lele dibelah pada bagian mulutnya, kemudian tulang yang menyelubungi otak dihancurkan secara hati-hati agar hipofisa tidak rusak. Hipofisa yang telah diperoleh digerus dan dicairkan dengan akuades, tunggu hingga cairan mengendap. Ekstrak hipofisa tersebut diambil dan disuntikkan pada ikan.

Pemijahan ikan lele secara intensif dilakukan praktek langsung oleh peserta diklat P2MKP yang dipandu oleh pelatih dari BPPP Tegal dan bantuan dari mahasiswa IGTF 2012. Pemijahan intensif dilakukan dengan persiapan wadah penetasan telur dan kakaban terlebih dahulu. Kemudian memilihan induk yang matang gonad. Induk jantan dan betina disuntik dengan ovaprim dibagian punggung, lalu dimasukkan ke dalam bak secara terpisah anatara jantan dan betina. Setelah sekitar 9-10 jam induk jantan dan betina diambil dari bak. Kemudian dilakukan pengambilan kantung sperma dari ikan lele jantan. Kantung sperma dibersihkan dari kotoran dengan menggunakan tisu dan dipotong, lalu dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0.9% dan kemudian diencerkan dengan akuades. Pengambilan dan pemotongan kantung sperma harus dilakukan dengna cepat agar sperma tidak mati. Bersamaan dengan hal tersebut induk betina di-striping (pengambilan telur). Telur dan sperma dimasukkan ke dalam mangkuk dan diaduk-aduk menggunakan bulu ayam sampai homogen. Setelah itu, telur disebar di atas kakaban dengan cara diciprat-cipratkan menggunakan bulu ayam agar penyebaran telur merata. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam.

Kegiatan selanjutnya adalah pembuatan pakan pellet. Peserta menerima materi terlebih dahulu, kemudian melakukan praktik pembuatan pellet secara langsung. Pellet yang dibuat menggunakan bahan tepung ikan dan dedak. Pembuatan pellet ini bertujuan untuk mengurangi biaya pakan dan dapat memperoleh kadar protein pakan yang diinginkan. Alat-alat yang digunakan adalah wadah, panci, kompor, pengaduk, mesin pencetak pellet dan timbangan. Prosedurnya yaitu: dedak dan tepung ikan ditimbang sesuai dengna hasil perhitungan yang diinginkan, dimasukkan ke dalam wadah dan diaduk hingga homogen. Masukkan sedikit demi sedikit cairan sagu panas secukupnya sambil terus diaduk, dengan ukuran 5 gram sagu dan 500-600 mL air per kilogram bahan (banyaknya air dapat disesuaikan dengan bahan yang digunakan). Setelah homogen, adonan pakan sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam mesin pencetak pellet, kemudian dijemur hingga kering. Pellet kering siap diberikan sebagai pakan ikan budi daya.

 

Pendahuluan

Vitamin merupakan mikronutrien organik esensial. Vitamin dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. vitamin yang larut dalam air antara lain tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), asam nikotinat, asam pantotenat, piridoksin (vitamin B6), biotin, asam folat, vitamin B12 dan asam askorbat (vitamin C). Sedangkan vitamin yang larut dalam lemak antara lain vitamin A, vitamin D, vitamin E dan vitamin K.

Asam askorbat atau lebih dikenal dengan vitamin C adalah vitamin untuk jenis primat tetapi tidak merupakan vitamin bagi hewan-hewan lain. Asam askorbat merupakan suatu reduktor kuat (Winarno1997). Bentuk teroksidasinya, asam dehidroaskorbat, mudah direduksi dengan berbagai reduktor seperti glutation karena asam ini tidak dapat berikatan dengan protein manapun. Sifat fisik dan kimiawi asam askorbat merupakan derivat monosakarida yang mempunyai gugus enediol dan mempunyai 2 rumus bangun yang erat, yaitu sebagai asam askorbat dan dehidro asam askorbat. Dehidro asam askorbat terjadi karena oksidasi spontan dari udara. Keduanya merupakan bentuk aktif yang terdapat dalam cairan tubuh yang merupakan kristal putih tidak berbau, larut dalam air dan kurang stabil serta tidak larut dalam lemak (Hawab 2005).

Asam askorbat (vitamin C) banyak diperlukan dalam metabolisme. Sumber vitamin C antara lain buah sitrun, arbei, semangka, cabai, tomat, apel, jeruk, kol merah, dan sayur-sayuran yang berdaun hijau. Vitamin C berperan sebagai anti sariawan, anti oksidan dan dapat meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit ynag disebabkan oleh virus (Wahyudi  2010). Kebutuhan vitamin C pada orang dewasa sekitar 45 mg/hari, pada anak-anak 35 mg/hari (Hawab 2005). Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar. Sedangkan kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping (Anonim 2008).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan mempelajari penentuan kadar vitamin C dalam tablet dan di dalam buah.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain labu Erlenmeyer, gelas piala, pipet volumetrik, pipet tetes, mortar dan buret. Bahan-bahan yang digunakan antara lain tablet vitamin C, sari buah jeruk, akuades, larutan pati, larutan iod 0.1N, H2SO4 2N dan larutan tiosulfat 0.1N.

 

Waktu Dan Tempat Praktikum

            Praktikum Biokimia Umum ini dilaksanakan pada hari Senin, 27 November 2011 pukul 13.00 – 16.00 WIB, di laboratorium departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

 

Metode

Penentuan vitamin C dalam tablet, satu tablet vitamin C dilarutkan ke dalam 10 ml akuades dingin yang telah didihkan sebelumnya, larutan tersebut dituang ke dalam labu erlenmeyer. Kemudian 3 ml H2SO4 2N dan 10 ml larutan iod 0,1N ditambahkan ke dalam larutan vitamin C tersebut. Setelah tercampur, dilakukan penitaran dengan larutan tiosulfat 0,1N dan sebagai indikator digunakan larutan pati. Selain itu dilakukan juga titrasi blanko (tanpa contoh). Kemudian dihitung jumlah tiosulfat yang digunakan dan ditentukan pula kadar vitamin yang terdapat dalam tablet tersebut. Metode penentuan vitamin C dalam buah dilakukan sama seperti metode penentuan vitamin C dalam tablet, tetapi tablet vitamin C diganti dengan sari buah jeruk sebanyak 10 ml. Kemudian, jumlah tiosulfat yang terpakai dihitung untuk menentukan kadar vitamin C yang terkandung dalam tablet dan sari buah. 1 ml tiosulfat 0.1N yang digunakan serata dengan 8,08 mg vitamin C.

 

 

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 penentuan kadar vitamin C dalam tablet

Bahan

Volume tiosulfat (ml)

Vterkoreksi

Kadar vitamin C (mg)

Vawal

Vakhir

Vterpakai

Blanko

29,1

38,8

9,7

 

 

Sampel 1

38,8

42,1

3,3

6,4

51,712

Sampel 2

43,7

49,7

6,0

3,7

29,896

                                   

Contoh perhitungan:

Blanko

Vterpakai            = Vakhir – Vawal

= 38,8 ml – 29,1 ml = 9,7 ml

Sampel 1

Vterkoreksi         = Vblanko – Vsampel

                                                 = 9,7 ml – 3,3 = 6,4 ml

 

Kadar vitamin C =

=  = 51,712 mg

 

Tabel 2 penentuan kadar vitamin C pada sari jeruk

Bahan

Volume tiosulfat (ml)

Vterkoreksi

Kadar vitamin C (mg)

Vawal

Vakhir

Vterpakai

Blanko

29,1

38,8

9,7

 

 

Sampel 1

22,8

29,1

6,3

3,4

27,472

Sampel 2

43,7

49,7

6,0

3,7

29,896

 

Pembahasan

Prinsip metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia dimana molekul analit A, bereaksi dengan molekul pereaksi T. Pereaksi yang disebut titran, ditambahkan secara kontinu dari sebuah buret dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui. Larutan ini disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan sebuah proses yang dinamakan standardisasi. Penambahan dari titran tetap dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditamabahkan kepada A. Selanjutnya akan dikatakan titik ekivalen dari titrasi telah dicapai. Hasil dari titrasi ini dinamakan titrat. Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran, kimiawan dapat menggunakan bahan kimia, yaitu indikator, yang bereaksi terhadap kehadiran titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Perubahan warna ini bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen tetapi bisa juga tidak. Titik dalam titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir. Tentu saja diharapkan, bahwa titik akhir akhir ini sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Istilah titrasi mengacu pada proses pengukuran volume dari titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen.

Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi netralisasi asam basa. Titik equivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi. Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurai dengan sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan (Mulyono 2005).

 

Daftar Pustaka

Day, RA dan Underwood, AL. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:  Erlangga

Hawab,HM. 2005. Pengantar Biokimia Edisi Revisi. Bayumedia:Medan

Mulyono,HAM. 2005. Kamus Kimia. Jakarta:Bumi Aksara

Winarno F.G.1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

Wahyudi.  2010. Penetapan kadar vitamin C dalam tablet vitamin C. [terhubung berkala]. http://www.chem-is-try.Org/materi    kimia/instrumen_analisis/ titrasi-volumetri/penetapan-kadar-vitamin-c-dalam-tablet-vitamin-c.

(3 Desember 2011)

 

 

JURNAL PRAKTIKUM M.K. DASAR-DASAR AKUAKUTUR (BDP200) DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR


Hari/Tanggal Praktikum: Kamis, 22 September 2011

 

 

 

 

 

Disusun oleh Kelompok 5 Kelas Praktikum THP:

Rahmawati (C34100008), Bianca Benning (C34100017), Feky Pundi Utami (C34100038), Mahardika Tri Handayani (C34100046), Elvina Melati (C34100053), Fatmasari Nuarisma (C34100055), Hendra Nur Fauzan (C34100079) dan Isna Kurniati Afifudin (C34100085)

 

 

1. Ringkasan Materi Praktikum

Praktikum minggu sebelumnya menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai cara penimbangan dan pemberian pakan serta teknik sempling. Prosedur penimbangan pakan yaitu pertama, pakan diambil dari wadah, ditimbang sebanyak 75 gram pellet kasar (untuk pakan induk) dan 12 gram pellet halus (untuk pakan larva) dengan timbangan satorius. Pakan-pakan tersebut dikemas ke dalam masing-masing plastik. Pakan larva diberikan dengan metode ad libitum. Sedangkan pakan induk diberikan dengan metode retriction. Teknik sampling yang dilakukan yaitu pertama hapa diangkat ke atas, ikan diambil dengan serok dan jangan sampai terkena udara. Kemudian ikan diambil sebanyak 30 ekor dan dipindahkan ke wadah dengan cepat. Setelah itu, ukur bobot dan panjang setiap ekor ikan lalu hitung bobot rata-rata setiap ekor ikan dan dinyatakan sebagai vt. kemudian, tentukan juga panjang rata-rata setiap ekor ikan dan dinyatakan sebagai P atau L. Pengukuran bobot larva dilakukan denagn cara berikut, pertama letakkan wadah berisi air di atas timbangan, lalu kalibrasikan timbangna tersebut. Kemudian, ambil larva dari wadah dan keringkan dengan tisu lalu langsung masukkan larva tersebut ke dalam wadah yang berada di atas timbangan. Cacat bobot masing-masing larva, jumlahkan satu-persatu bobotnya, setelah itu hitung bobot rata-ratanya. Pengukuran panjang larva dapat dilakukan dengan menggunakan penggaris. Survival Rate (SR) merupakan derajad kelangsungan hidup ikan pada waktu t. Survival rate apat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

SR = (Nt/No) x 100%


Keterangan:    SR = survival rate (%)

Nt = jumlah ikan pada waktu t (ekor)

N0 = jumlah ikan awal (ekor)

 

Mortalitas rate (MR) merupakan derajat kematian ikan. MR dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

 

MR = (M/No) x 100%


keterangan:

MR= Mortalitas rate

M= Jumlah ikan mati pada saat t (ekor)

No= Jumlah ikan awal (ekor)

Fekunditas adalah jumlah telur yang dikandung oleh setiap ekor ikan. Fertilization rate (FR) merupakan derajat pembuahan pada ikan. Bobot induk ikan nila yang ideal yaitu 200-250 gram per ekor dan dapat menghasilkan telur sebanyak 500-1000 butir. Berbeda dengna ikan mas yang dapat menghasilkan telur sebanyak 10.000 butir. Dari sekian banyak telur ikan nila yang dihasilkan, biasanya yang menetas hanya 200-400 ekor (hatching rate). Ikan nila bersifat parental care, yaitu merawat anaknya sendiri seperti ikan arwana. Jenis-jenis ikan yang bersifat parental care jumlah telurnya hanya sedikit. Indikator telur ikan nila yang berhasil dibuahi yaitu berwarna kuning dan kuning kehijauan. Sedangkan telur yang rusak atau tidak berhasil dibuahi berwana putih susu. Faktor-fakrot yang mempengaruhi telur tidak dapat dibuahi yaitu karena kualitas telur kurang baik dan sperma tidak sampai ke telur saat lubang mikrofil tertutup. Ikan nila yang sudah dapat dipijahkan yaitu ikan nila yang berumur sekitar enam bulan. Sedangkan masa produktif ikan nila antara 6-24 bulan.  

 

2. Hasil Praktikum Lapang

Berikut data hasil praktikum lapang yang telah dilakukan pada minggu sebelumnya.

Tabel 1 Jumlah pakan harian

No Stadia FR (%) ∑ Pakan/hari Frekuensi Tipe Pakan
1 Induk 2 75 gram 2x Pakan tenggelam
2 Larva 12 12 gram 3x Pakan halus

Tabel 2 Data pemeliharaan induk ikan nila (Oreochromis niloticus)

No Hari/ tanggal Jumlah panen larva Kualitas Air Waktu ∑pakan/  hari (gr) ∑ sisa pakan (gr)
pH Suhu (0C) Pagi Sore
1 Rabu/22-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 40
2 Kamis/23-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 50
3 Jumat/24-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 50
4 Sabtu/25-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 45
5 Minggu/26-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 25
6 Senin/27-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 0
7 Selasa/28-09-2011 5000 27 06.30 17.00 75 0

 

Tabel 3 Data pemeliharaan larva ikan nila (Oreochromis niloticus)

No Hari/tanggal Kualitas Air Waktu ∑ Larva
pH Suhu Pagi Siang Sore Mati Total
1 Rabu/22-09-2011
2 Kamis/23-09-2011
3 Jumat/24-09-2011
4 Sabtu/25-09-2011
5 Minggu/26-09-2011
6 Senin/27-09-2011
7 Selasa/28-09-2011

 

3. Evaluasi Jalannya Praktikum

Pada praktikum yang telah dilakukan minggu lalu, praktikum dapat berjalan dengan baik. Namun, ketika turun ke lapang hanya satu kelompok saja dan tidak ada perwakilan salah satu anggota dari kelompok lain, sehingga kami tidak tahu bagaimana keadaan lapang saat itu. Seharusnya untuk mengantisipasi hal tersebut, ada perwakilan satu orang saja dari masing-masing kelompok pada saat turun ke lapang atau jika tidak demikian diharapkan kepada kelompok yang turun lapang dapat menjelaskan di depan kelas agar semua informasi terkait praktikum di lapang dapat diterima dengan baik. Sangat diharapkan pada praktikum selanjutnya agar praktikum bisa dilakukan lebih cepat sehingga tidak  memakan banyak waktu.

Nama : Isna Kurniati Af

NRP :    C34100085

Laskar: 19

Inspirasi dari Ibu

Pramuka kata yang tak asing lagi bagi saya. Saya sudah aktif mengikuti ekskul pramuka sejak kelas empat SD hingga kelas dua SMA. Pramuka mengajarkan saya untuk menjadi insan yang disiplin, mandiri, rela berkorban untuk sesama, dan menumbuhkan rasa patriotisme serta memberikan berbagai pengalaman yang berharga sepanjang sejarah hidup saya.

Kelas dua SMA adalah masa terakhir saya aktif di pramuka karena kelas tiga sudah tidak diizinkan lagi mengikuti berbagai organisasi apapun. Waktu itu ada kegiatan panca lomba yang diadakan oleh kuarda Sumatera Selatan. Panca lomba tersebut terdiri atas lima perlombaan, yaitu: LTBB (lomba teknik baris-berbaris), pionering, cerdas cermat kepramukaan, hasta karya, dan musikalisasi puisi.

Dalam panca lomba tersebut, saya memilih ikut lomba hasta karya bersama satu rekan saya yaitu Ana. Karya yang harus dibuat adalah bersal dari bahan sampah anorganik. Berhari-hari saya dan Ana bingung memikirkan ide tentang apa yang akan dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba dan berasal dari bahan apa. Itulah pertanyaan yang muncul dibenak saya dan Ana sebelum menemukan ide yang pas.

Suatu ketika, tak disengaja saya teringat bahwa ibu saya pintar membuat kerajinan-kerajinan tangan yang lumayan bagus. Akhirnya saya telfon ibu saya dan kata ibu: ”Buat saja bunga mawar yang terbuat dari botol bekas aqua gelas. Bahan-bahannya yaitu botol bekas aqua gelas, cat/pilok ( sesuai warna yang disukai), kawat, vas bunga yang terbuat dari kaleng bekas juga, dan batang pohan bunga yang bisa berasal dari ranting pohon.”

Oh ya, saya ingat dulu ibu pernah membuatnya bersama saya. Saya kira cukup mudah, untuk membuatnya tidak memerlukan keahlian khusus cukup dengan terampil dan telaten saja. Cara membuatnya yaitu: pertama potong botol bekas aqua gelas membentuk mahkota-mahkota bunga, kemudian susun mahkota-mahkota tersebut hingga membentuk sebuah bunga. Setelah itu, beri warna bunga tersebut dengan cat/pilok sesuai warna yang disukai. Kemudian rangkai beberapa bunga tersebut pada ranting yang sudah disiapkan sebagai batang bunga. Untuk membuat daunnya juga sangat mudah yaitu cukup dengan memotong botol bekas aqua gelas membentuk daun yang diinginkan. Lalu warnai dengan cat/pilok warna hijau. Kemudian rangkailkan pada ranting yang sudah disiapkan denagn baik, sesuai denagn proporsinya. Seingga tampak sebuah bunga yang indah.

Yah, itu adalah cara yang sangat mudah. Setelah berdiskusi dengan Ana, kamipun sepakat untuk membuat bunga tersubut dalam panca lomba yang diadakan oleh kuarda Sumatera Selatan. Singkat cerita, saat pengumuman hasil lomba, karya saya dan Ana meraih juara tiga se-Sumatera Selatan. Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya meskipun hanya meraih juara tiga. Setidaknya yang saya lakukan tidak sisa-sia. “Terimakasih ibu”… itulah yang saya ucapkan pada ibu. Berkat jasa ibu, saya terinspirasi untuk membuat bunga yang diikutsertakan pada panca lomba.

Ternyata begitu banyak barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi dapat menjadi barang baru mempunyai nilai seni dan nilai ekonomis, jika diolah dengan baik.

*********

Teman-teman laskar inspirasi, saya akan bercerita tentang teman saya. Mungkin cerita yang akan saya ceritakan tak asing lagi bagi teman-teman. Dan ini adalah rangkaian kata-kata saya bukan rangkaian kata-kata seorang penyair, cerpenis, ataupun novelis. Jadi, harap maklum. Baiklah cerita dimulai…

~~~SOFIA~~~

Sebut saja Sofia (bukan nama sebenarnya). Dia adalah salah seorang sahabat saya. Sofia adalah anak yang periang, pemberani dan ulet. Ia adalah anak blesteran (jawa dan Medan). Ayahnya berasal dari Jawa dan ibunya berasal dari Medan.

Kami berada dalam satu sekolah sejak SD hingga SMP. Persahabatan kami sangat erat, hingga saya tahusemua cerita dan liku-likunya hidup Sofia. Begitu juga dengan Sofia, ia tahu semua cerita tentang saya. tidak ada rahasia di antara kami berdua. Susah senang dirasa bersama. Begitulah banayk pepatah mengatakan tentang arti sahabat.

Berawal dari masuk SMP, Sofia berpisah dengan kedua orang tuanya. Bukan karena broken home dan bukan pula karena Sofia diusur dari rumah oleh orang tuanya seperti yang terjadi pada anak durhaka. Melainkan karena orang tuanya tidak mampu membiayai sofia untuk bersekolah. Sedangkan keinginan Sofia unuk melanjutkan sekolah ke SMP sangat besar, ia sangat ingin terus bersekolah seperti teman-temannya. Solusi terakhir bagi Sofia adalah ia harus tinggal bersama kakaknya yang sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Sofia berharap, kakaknya bisa membantu. Teman-teman inspirasi 47, tahukah apa yang terjadi dengan Sofia selanjutnya? Ternyata, kehidupan kakaknyapun tidak sebaik yang diharapkan. Keadaan ekonominya pun paspasan dan kesulitan dalam membiayai sekolah Sofia. Hingga suatu ketika Sofia nekad bekerja di sebuah warung makan kecil sebagai tukang cuci piring. Coba teman-teman laskar inspirasi bayangkan anak sekecil Sofia, anak kelas 1 SMP sudah bergelut dengan dunia sekejam itu. Sepulang sekolah ia tidak bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Ia harus bergegas ke pinggiran pasar, ke sebuah warung untuk melaksanakan pekerjaannya. Tetapi bagi Sofia ini merupakan hal yang paling bahagia karena ia bisa mengurangi sedikit beban keluarganya. Bahkan Sofia bercita-cita ingin menabung dari uang yang ia sisihkan, dan menggunakan uang tersebut untk melanjutkan sekolah lagi ke SMA nanti.

Teman-teman laskar inspirasi, yang dilakukan Sofia dalam cerita tersebut dapat menginspirasi kita yaitu untuk tidak menyerah dalam menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan. Banyak yang bisa kita lakukan selama kita mau berusaha. Dimana ada kemauan disana pasti ada jalan.